www.radarpena.com

Senin, 17 Desember 2018
Kriminal

Pelajar SMP di Cinangka Ditemukan Tewas Mengentaskan

Pembunuhan
Minggu, 07 Oktober 2018 - 00:01 WIB
Pelajar SMP di Cinangka Ditemukan Tewas Mengentaskan
Polisi sedang melakukan olah TKP dugaan pembunuhan pelajar SMP di Cinangka, Depok, Sabtu siang (6/10).

RADARPENA.CO - Seorang pelajar SMP Ali Akbar (14) ditemukan tewas mengenaskan di Kampung Bulak Poncol, RT3/9 Kelurahan Cinangka, Kecamatan Sawangan, Depok Jawa Barat, Sabtu siang (6/10). Leher dan tangan kanan korban terdapat luka sayatan senjata tajam.

Siswa kelas IX di Madrasah Tsanawiyah Al Hidayah, Kampung Kebon Cinangka, Sawangan ini pertama kali ditemukan di pinggir kali oleh warga bernama Muhidin sekira pukul 11.00 WIB saat melintas. Saat ditemukan korban mengenakan kaos hitam dan celana panjang pramuka.

Pada tubuh korban diketahui terdapat banyak luka bacok senjata tajam. Selain itu, leher korban terdapat luka dan urat nadi tangan kanan korban putus.

"Terlihat di sekitar leher ada luka banyak darah dan lebih jelas lagi urat nadinya putus seperti di belek pake senjata tajam," ujar Miing warga sekitar ada di lokasi.

Ada informasi korban diketahui merupakan warga sekitar lokasi kejadian. "Tadi ada yang mengenali korban katanya warga Cinangka," katanya.

Kasubag Humas Polresta Depok, Ajun Komisaris Polisi Firdaus membenarkan adanya peristiwa penemuan mayat itu.

"Kasusnya sampai saat ini masih dalam penyelidikan. Saat ini tim sudah ke lokasi untuk melakukan olah TKP lebih lanjut," katanya.

Beberapa saksi mata sudah dimintai keterangan.
Meski minim saksi, namun orang tua korban Sumarno akrab dipanggil Marno (48) berharap pihak kepolisian bisa cepat menangkap pelaku. Orangtua korban sangat terpukul atas kematian putranya dengan cara mengenaskan.

Sebelum kejadian anak sulung pasangan Sumarno-Ama tersebut sempat pulang ke rumah sekira pukul 09.30 WIB. "Udah ganti baju kaos hitam namun celana masih panjang Pramuka coklat," ujar Marno sambil menangis.

Kata Marno, korban sempat meminta uang jajan Rp 10 ribu hanya saja ia belum sempat memberi anaknya uang karena terburu-buru bekerja (ojek).

"Tadi dia awalnya mau pake motor untuk main tidak saya kasih karena mau dipakai kerja (ojek). Setelah itu anak langsung keluar rumah alasannya mau main futsal sama temen-temennya," katanya.

Namun berselang kurang lebih 2 jam, Marno dapat kabar jika anaknya tersebut sudah tewas. "Tragis banget kematian anak saya dengan cara dianiaya. Tidak sanggup melihat keadaan anak saat di kali penuh darah dan urat nadi tangan kanan sudah putus," tambahnya.

Sehari-hari anaknya tersebut dikenal sangat pendiam dan tidak pernah macam-macam. "Jangankan main yang tidak bener, badung (nakal) aja tidak pernah," ungkapnya.

Sebagai orang tua, Marno berharap aparat kepolisian Sawangan segera menangkap pelaku dan memberinya sanksi yang setimpal. "Pelakunya harus mendapatkan hukuman setimpal atas segala perbuatan yang telah dilakukan terhadap anak saya," tutupnya.


Reporter  : Andi Mardani 
Editor : FT Lumintang 


Sumber   :

Komentar
Close Ads X