www.radarpena.com

Sabtu, 20 Oktober 2018

Ini Komentar Pengamat Soal Arah Kebijakan BBM

Ketidakjelasan Memberi Persepsi Negatif ke Pasar
Kamis, 11 Oktober 2018 - 19:00 WIB
Ini Komentar Pengamat Soal Arah Kebijakan BBM
Ilustrasi kenaikan harga BBM

RADARPENA.CO  - Ketidakjelasan pemerintah dalam mengomunikasikan kebijakan harga BBM bisa berpengaruh buruk ke pasar. Pelaku pasar dapat melihat pemerintah tidak memiliki koordinasi dan arah kebijakan yang jelas.Padahal, di tengah ketidakpastian ekonomi global, pasar perlu melihat bahwa pemerintah punya mekanisme yang konsisten.

”Apalagi ini kan terjadi di tengah perhelatan pertemuan tahunan IMF-World Bank Group. Banyak ekonom, pelaku pasar, investor, dan media-media dari luar negeri. Ini sangat tidak pas,” kata Bhima Yudistira, ekonom Indef, Kamis (11/10/2018).

Menurut dia, pemerintah saat ini menghadapi tiga tekanan. Yaitu, harga minyak dunia yang terus naik hingga mencapai USD 80 per barel, rupiah yang melemah akibat defisit neraca migas, dan keuangan PT Pertamina yang merugi.

Nah jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM, konsekuensinya adalah neraca migas akan mengalami defisit yang melebar. Pada Januari–Agustus 2018, defisit neraca migas mencapai USD 8,3 miliar.

Hal itu akan mendorong rupiah melemah dan berpotensi menyentuh level Rp 15.600 hingga akhir tahun. Sebab, devisa akan tersedot lebih besar ke sektor migas. Kemudian, Pertamina mempunyai potential loss yang lebih besar, yakni Rp20 triliun. Sebab, setiap harga minyak dunia naik USD 1, Pertamina rugi Rp2,8 triliun.

Jika harga BBM tak disesuaikan, keuangan Pertamina akan terbebani. Jika keuangan Pertamina tidak menguntungkan, Pertamina akan maju-mundur dalam melakukan lifting minyak dari dalam negeri. Akibatnya, kebutuhan BBM akan dipenuhi impor yang semakin besar.

Bhima menyarankan pemerintah menaikkan harga BBM secara terukur dan gradual. Kenaikan itu sebaiknya tidak lebih dari Rp200 per liter dan dilakukan secara bertahap. Sebab, BBM nonsubsidi lebih dahulu naik sehingga pemerintah harus berhati-hati menyesuaikan harga.

”Selain itu, perlu dibuat antisipasi daya beli. Mungkin menaikkan bansos atau yang lainnya,” kata Bhima.

Project Consultant Asian Development Bank (ADB) Eric Alexander Sugandi menuturkan, jika harga BBM jadi dinaikkan, yang pertama terjadi adalah meningkatnya tekanan pada inflasi. Besarnya tekanan inflasi bergantung pada magnitude kenaikan harga BBM.

”Year to date inflasi masih rendah sehingga kenaikan harga BBM bersubsidi, walau menaikkan inflasi, tetap berada di rentang target BI,” jelasnya.

Namun, kata Eric, kenaikan harga BBM memberikan dampak positif bagi neraca pembayaran. Kenaikan BBM itu mampu menurunkan defisit transaksi berjalan (CAD).

”Juga bisa membantu mengurangi defisit APBN, tapi memang berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga,” imbuhnya.

Terpisah Peneliti senior LPEM Universitas Indonesia Febrio Kacaribu menambahkan, rencana kenaikan harga BBM sebenarnya cukup positif. Kebijakan itu akan meringankan beban Pertamina yang sudah menanggung sebagian dari beban subsidi tersebut.

”Pasar langsung merespons positif, bahkan sebelum pengumumannya dikeluarkan hari ini (kemarin). Pasar saham maupun obligasi dan juga rupiah bergerak positif,” jelasnya.

Dengan kebijakan tersebut, impor minyak akan turun karena kenaikan harga minyak mentah langsung diteruskan ke harga BBM. ”Dengan demikian, defisit minyak dan BBM di neraca transaksi berjalan akan berkurang,” lanjutnya.

Redaktur : Syaiful Amri
Reporter : --
Sumber   : Jawa Pos

Komentar
Close Ads X