www.radarpena.com

Sabtu, 20 Oktober 2018

Masih Ratusan Korban Jiwa Tertimbun Tanah Longsor

Kamis, 11 Oktober 2018 - 21:05 WIB
Masih Ratusan Korban Jiwa Tertimbun Tanah Longsor
Evakuasi korban jiwa terus dilakukan hingga kemarin (11/10/2018). FOTO: SULTENGBERGERAK

RADARPENA.CO - Kondisi darurat pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) masih menyisakan masalah. Khususnya dalam evakuasi korban jiwa yang tertimbun tanah longsor.

Berdasarkan pantauan tim pencari korban yang menyebar di sejumlah titik pada hari terakhir, evakuasi dilakukan di Hotel Mercure, Balaroa, dan Petobo.

”Tinggal satu korban yang dilaporkan di dalam hotel,” kata Solikin, personel tim sar di Hotel Mercure, Kamis (11/10/2018).

Korban yang dicari adalah seorang perempuan. Dia merupakan pegawai hotel yang saat kejadian berada di lantai pertama. Evakuasi sulit dilakukan lantaran lantai itu ambles karena gempa. ”Lantai yang terlihat sebenarnya lantai dua,” ungkapnya.

Hingga menjelang malam, pencarian itu tidak membuahkan hasil. Di Balaroa, ratusan warga tampak berkumpul di area yang terkena likuifaksi. Mereka mencari barang-barang yang masih dapat dipakai.

Beberapa hanya meratap sayu ke arah bekas tempat tinggalnya yang kini sudah rata dengan tanah. ”Banyak teman yang belum ditemukan,” kata Eril Kurniawan.

Bocah SMP itu sempat membawa tabung gas elpiji melon dari reruntuhan puing tempat tinggalnya. Eril juga menyebut rumahnya bergeser sekitar 300 meter dari lokasi awal. ”Kakek dan tante saya ditemukan sehari setelah kejadian,” ucapnya.

Evakuasi korban memang tidak mudah. Luas pemukiman yang teruruk tanah diperkirakan hampir 50 hektare. Hingga pukul 13.00, pencarian korban tetap nihil.

Kondisi serupa terjadi di Petobo. Jumlah korban yang diperkirakan masih tertimbun tanah longsor seluas 180 hektare diperkirakan mencapai ratusan.

”Kakak saya belum ketemu,” sebut Muanwar. Pria 30 tahun itu tampak merenung di atas tumpukan tanah likuifaksi.

Muanwar mengungkapkan, kakak perempuannya belum ditemukan. Dia sempat pamit pergi ke rumah temannya yang terkena longsoran. ”Bapak sama ibu di posko. Masih trauma,” katanya.

Sesuai data satgas bencana alam, korban meninggal yang terdata selama dua pekan pasca kejadian sampai pukul 15.00 kemarin 2.067 orang. Jumlahnya bakal meningkat tajam kalau korban yang tertimbun tanah likuifaksi di Petobo, Balaroa, dan Jono Oge Sigi bisa dievakuasi semua.

Direktur Operasi Basarnas Brigjen TNI (Mar) Bambang Suryo mengatakan, pihaknya sudah berupaya keras untuk melakukan operasi pencarian. Operasi sejak awal dipusatkan pada titik likuifaksi. ”Kondisi lapangan tidak mudah,” ujarnya.

Dalam pencarian, lanjutnya, personel juga harus memperhatikan aspek keselamatan. Begitu juga dengan kondisi korban yang tertimbun tanah.

”Jenazah pasti sudah rusak. Kami setuju dengan pemuka agama yang menyarankan lokasi langsung dijadikan sebagai pemakaman,” kata Bambang.

Sementara itu, warga terdampak gempa dan tsunami Sulteng mulai beraktivitas normal. Meski kondisinya belum pulih seperti sedia kala. Dari segi pendidikan, misalnya. Sejumlah sekolah mulai didatangi para siswa.

Berdasar pantauan, proses belajar mengajar terlihat di SMPN 1 Palu kemarin. Guru dan para siswa tidak berada di dalam bangunan sekolah. Mereka berkumpul di dalam sebuah tenda. Letaknya di halaman.

Kepala Sekolah SMPN 1 Palu Farida Batjo mengatakan, kegiatan belajar sudah berlangsung empat hari. Belum semua anak didik bisa hadir. Dari ratusan siswa, hanya segelintir yang mengikuti pelajaran.

”Siswa kelas VII delapan. Siswa kelas VIII empat. Siswa kelas IX dua puluh,” jelasnya.

Mereka masuk mulai pukul 08.00. Mundur satu jam dari jadwal masuk biasa. Guru kemudian mengelompokkan siswa secara terpisah berdasarkan kelas. ”Empat mata pelajaran sehari,” terangnya.

Farida mengatakan, siswa mendapat trauma healing dari relawan sebelum mendengarkan pelajaran.”Mata pelajaran juga diganti setiap setengah jam agar siswa tidak merasa bosan,” lanjutnya.

Dia menuturkan, proses belajar tidak bisa lama karena situasi masih darurat. Siswa sudah diperbolehkan pulang pukul 11.00. Maju empat jam dari jadwal resmi. ”Siswa mau datang saja sudah syukur,” ujarnya.

Nuril Soli, pelajar kelas VIII mengaku tinggal tidak jauh dari sekolah. Dia diantar dan dijemput ibunya. Warga Desa Besusu Tengah, Kecamatan Palu Timur, Palu itu berharap semua teman-temannya bisa segera masuk. ”Banyak yang tidak masuk jadi sepi,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pendidikan Palu Ansyar Sutiadi menyatakan, pihaknya sudah memberi instruksi kepada para sekolah untuk membuat kondisi cepat pulih. Yakni, dengan menjalankan kegiatan belajar mengajar sejak Senin (8/10/2018). ”Diselaraskan dengan pelayanan pemerintahan,” sebutnya.

Menurut dia, proses belajar mengajar di sekolah terpaksa dilakukan di dalam tenda karena situasi belum memungkinkan. Guru dan siswa masih merasa trauma masuk bangunan. ”Bantuan tenda dari Kemendikbud,” katanya.

Ansyar juga meminta seluruh kepala sekolah meninjau ulang kondisi bangunan. Lantas melaporkannya ke dinas. Dengan begitu bangunan yang masih dan tidak bisa dipakai bisa dipetakan. ”Bisa lekas dilaporkan ke pemerintah agar diperbaiki,” sebutnya.

 

 

Redaktur : Syaiful Amri
Reporter : --
Sumber   : Kaltim Pos

Komentar
Close Ads X