www.radarpena.com

Senin, 17 Desember 2018

Angka Perceraian di Kabupaten Bekasi Diprediksi Meningkat Hingga Akhir 2018

Kamis, 06 Desember 2018 - 15:43 WIB
Angka Perceraian di Kabupaten Bekasi Diprediksi Meningkat Hingga Akhir 2018

RADARPENA.CO – Hingga akhir tahun 2018, angka perceraian di Kabupaten Bekasi diprediksi meningkat meski tak signifikan. Prediksi ini berdasarkan data Pengadilan Agama Cikarang di mana pada tahun 2018 angka perceraian mencapai 2.738 kasus. Sementara hingga Oktober 2018 angka perceraian di Kabupaten Bekasi sudah 2.321 kasus.

”Dengan rata-rata angka perceraian 250 kasus per bulan, kemungkinan besar sampai akhir 2018 akan bertambah sebanyak 500 kasus,” ujar Panitera Pengadilan Agama Cikarang, Dede Supriadi, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, ada beberapa faktor terjadinya perceraian. Mulai dari perselisihan terus menerus, pihak ketiga, faktor ekonomi, dan meninggalkan salah satu pihak. Untuk pihak ketiga di antaranya karena selingkuh, maupun ikut campur orang tua dalam rumah tangga.

Dede mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menghalangi setiap orang untuk bercerai. Namun Pengadilan Agama menyediakan jalur mediasi untuk menyelesaikan masalah yang dialami pasangan rumah tangga agar perceraian tidak terjadi.

“Tapi kebanyakan mediasi gagal, dan berlanjutkan ke persidangan. Kalau sudah masuk ke persidangan kemungkinan permintaannya dikabulkan yaitu cerai,” tambahnya.

Lanjut dia, proses mediasi membutuhkan waktu 30 hari sebelum pokok perkara diperiksa. Mediator telah disiapkan oleh pengadilan, namun juga bisa memilih mediator di luar pengadilan.

“Dalam mediasi kami mengupayakan agar damai. Dalam artian damainya itu ada dua alternatif, bisa damai tidak jadi cerai, dan cerai tapi tidak berlarut-larut atau tidak berkali-kali sidang,” jelasnya.

Di sisi lain untuk mengurangi angka peceraian yang terjadi di Kabupaten Bekasi, Kementerian Agama Kabupaten Bekasi sudah melakukan beberapa program. Hanya saja angka perceraian di Kabupaten Bekasi masih tetap tinggi.

 

Adapun angka rata-rata kasus perceraian per bulan mencapai 250 kasus. Angka perceraian pada 2018 ini diprediksi bakal meningkat dari 2017 mengingat masih ada data perceraian pada November dan Desember.

”Kemungkinan besar sampai akhir 2018, atau Desember akan bertambah sebanyak 500 orang cerai. Walaupun meningkat, tapi tidak banyak setiap tahunnya,” ujar Panitera Pengadilan Agama Cikarang, Dede Supriadi, baru-baru ini.

Menurutnya ada beberapa faktor terjadinya perceraian. Mulai dari perselisihan terus menerus, pihak ketiga, faktor ekonomi, dan meninggalkan salah satu pihak. Untuk pihak ketiga di antaranya karena selingkuh, maupun ikut campur orang tua dalam rumah tangga.

Dede mengungkapkan, pihaknya tidak bisa menghalangi setiap orang untuk bercerai. Namun Pengadilan Agama menyediakan jalur mediasi untuk menyelesaikan masalah yang dialami pasangan rumah tangga agar perceraian tidak terjadi.

“Tapi kebanyakan mediasi gagal, dan berlanjutkan ke persidangan. Kalau sudah masuk ke persidangan kemungkinan permintaannya dikabulkan yaitu cerai,” tambahnya.

Lanjut dia, proses mediasi membutuhkan waktu 30 hari sebelum pokok perkara diperiksa. Mediator telah disiapkan oleh pengadilan, namun juga bisa memilih mediator di luar pengadilan.

“Dalam mediasi kami mengupayakan agar damai. Dalam artian damainya itu ada dua alternatif, bisa damai tidak jadi cerai, dan cerai tapi tidak berlarut-larut atau tidak berkali-kali sidang,” jelasnya.

Di sisi lain untuk mengurangi angka peceraian yang terjadi di Kabupaten Bekasi, Kementerian Agama Kabupaten Bekasi sudah melakukan beberapa program. Hanya saja angka perceraian di Kabupaten Bekasi masih tetap tinggi.


Sumber   : JPNN

Komentar
Close Ads X