www.radarpena.com

Senin, 21 Januari 2019

Rawan Bencana, Pengusaha Optimistis Investasi 2019 Tetap Moncer

Kamis, 03 Januari 2019 - 10:00 WIB
Rawan Bencana, Pengusaha Optimistis Investasi 2019 Tetap Moncer
Ilustrasi. Foto: Istimewa

RADARPENA - Meski Indonesia termasuk salah satu negara yang rawan bencana, tetapi sejumlah pengusaha memastikan investasi di Tanah Air akan tetap tumbuh di atas 5 persen.

Diakui pengusaha, memang ada kekhawatiran para investor memilih kabur ke negara lain sebagai tujuan investasi, tetapi dipastikan hal itu tidak akan terjadi. Ini karena pemerintah bereaksi cepat menangani bencana maupun mencegahnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, bencana bisa datang kapan saja dan di mana saja. Karena itu, tidak akan berdampak pada iklim investasi.

"Seperti negara Jepang yang rawan gempa investasinya tetap tumbuh," kata dia, baru-baru ini.

Bagi dia, yang terpenting ada kebijakan atau aturan yang diberlakukan pemerintah dalam mengantisipasi bencana alam yang terjadi di Indonesia.

Senada dengan Hariyadi Sukamdani, Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Nita Yudi melihat ekonomi Indonesia akan terus tumbuh di tahun 2019 meski berada di ring of fire.

"Kalau melihat secara makro pertumbuhan Indonesia 5,1 persen. Artinya di atas 4 dan plus. Sedangkan negara lain pertumbuhan ekonomi sangat kecil, jadi prospek Indonesia bagus," katanya saat dihubungi Fajar Indonesia Network (FIN), Rabu (2/1).

Bahkan, kata dia, berdasarkan lembaga riset internasional bernama McKinsey Global Institute diprediksi Indonesia akan menjadi negara dengan kekuatan ekonomi nomor tujuh di dunia pada tahun 2030 mendatang.

"Jadi saya optimis pertumbuhan ekonomi ataupun investasi akan tetap berjalan baik," ujar dia.

Apalagi kata dia, pemerintahan Presiden Joko Widodo begitu cepat dan tanggap seperti tsunami yang terjadi di Pandeglang, Banten, pada Rabu (26/12). Di sana, pemerintah cepat memberikan bantuan dan melakukan tindakan dengan tepat.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus mengatakan, jika Indonesia menginginkan investasi tetap normal dan baik di Indonesia, yakni harus memperkuat sistem peringatan dini.

"Contohnya negara Jepang yang semua pulau satu garis dengan ring of fire, kita salah satu masuk segaris dengan ring of fire. Jadi, seharusnya lembaga bencana alam seperti BMKG, BNPB atau lainnya memang seharusnya lebih bagus dan lebih kuat dibanding dengan lembaga sejenis dan early warning system lebih Indonesia," jelas dia.

Saran dia, saat ini Indonesia juga harus memfokuskan untuk meniminalisasi dampak bencana alam dan juga tidak mengabaikan pembangunan infrastruktur.

"BMKG harus diperkuat dengan amunisi. Memang harus menjadi prioritas ke depan. Percuma infrstruktur bagus tapi bencana alam, kan percuma saja (bangun infrastruktur kembali)," ujar dia.

Menurut dia, dengan memperkuat early warning adalah salah satu cara untuk membuat iklim investasi menjadi kondusif dan memberikan rasa nyaman dan aman bagi investor.

Sementara Ekonom Core Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, agar investor tetap betah di Indonesia salah cara yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah Indonesia yang rawan gempa, yaitu mulai dari tahap perencanaan (termasuk tata ruang) hingga teknis pembangunan (konstruksi), serta sistem pencegahan (early warning system).

"Sehingga risiko dampak bencana terhadap investasi dapat diminimalkan," tukasnya.

(din/fin)

 


Sumber   :

Komentar
Close Ads X